Kamis, 02 Januari 2025

LANJUTAN AUTOBIOGRAFI DAN LINTAS PERJALANAN HIDUP H. SALMAN ABDULLAH TANJUNG, MA

 

KUALA LUMPUR – AMMAN
27 JULI 1993 - 10 AGUSTUS 1993

 

S

ebagai ”pendatang haram[1]” di Malaysia, tentu kita tidak berpeluang untuk mendapatkan paspor resmi dari pemerintah Indonesia. Oleh karena itu kita mencari jalan bagaimana bisa pulang ke Indonesia dengan jalur resmi. Untuk pulang ke Indonesia sangat sulit tanpa memiliki paspor. Maka satu-satunya jalan adalah dengan membuat SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor) yang diterbitkan kedutaan RI di Kuala Lumpur.

Sebelum berangkat menuju Yordania sempat pulang ke Indonesia, tepatnya dikota Siantar, dikediaman abang kandung. Tujuan utama yang dikerjakan di Pematang Siantar adalah untuk  mengurus Paspor agar dapat melanjutkan perjalanan ke luar negeri (LN).

Pada 13 Juli 1993 sampai kembali di Malaysia. Selama dua pekan melakukan pengurusan visa masuk ke Yordania di Konsulat Yordania Kuala Lumpur. Setelah memperoleh visa masuk ke Yordania, pada tanggal 27 Juli 1993 menuju Amman (Yordania). Jarak tempuh Kuala Lumpur – Amman saat itu + 11 jam naik pesawat.

Melakukan perjalanan keluar negeri sendirian terasa mencemaskan, apalagi di tempat tujuan tidak satu orangpun yang dikenal. Saat itu hanya satu prinsip: Selama ada kedutaan RI di negara tujuan, pasti ada orang Indonesia yang dapat memberi jalan.

Sewaktu berada dalam pesawat Royal Yordania Air Ways, yang selalu membayang-bayangi pikiran bagaimana cara sampai ke kedutaan Indonesia di Amman. Alhamdulillah perjalanan seperti berjalan diatas rel, tidak ada yang meleset dari apa yang diinginkan. Mendarat di Yordania sekitar pukul 04:00 pagi waktu setempat. Sebelum masuk ke pintu imigrasi bandara terlebih dahulu mengisi pormulir. Pertama kalinya melakukan perjalanan ke negara Arab, di pesawat kita dikasi pormulir untuk diisi, sebagian dari pertanyaan masih asing bagi kita, lalu ada seorang warga negara Yordania yang membantu untuk mengisi formulir tersebut. Dari pengalaman pertama itu sebagian Bahasa Arab kita dapat belajar.

Sekitar pukul 05:00 pagi waktu setempat keluar dari bandara. Sesampainya di teras bangunan bandara ternyata masih gelap karena saat itu masih musim semi. Sekitar jam: 05.30 masuk waktu shalat subuh, saya pun mencari mushalla di depan bangunan bandara dan melaksanakan shalat shubuh. Menunggu sampai terang, kita sengaja duduk berlama-lama di mushalla agar lebih mudah bertanya kepada orang lain,  alat transportasi/bus apa yang mengarah ke kedutaan RI. Ternyata informasi transport yang mengarah menuju kedutaan RI sangat jauh dari lokasi bandara.

“Di setiap langkah manusia selalu di sertai dengan ketentuan Tuhan. Hal-hal yang dikhawatirkan oleh hamba-Nya terkadang berjalan mulus diluar jangkaun pikiran manusia. Dalam kisah nyata seseorang terkadang menjadi ingatan yang abadi bagi dirinya dan tidak pernah terlupakan. Abadinya sebuah cerita disebabkan kisah yang dialami cukup berkesan atau mengharukan”.

Jauh-jauh sebelum berangkat ke negeri Arab ada satu imej negatif yang tertanam di benak hati saya terhadap orang Arab. Karena cerita orang yang sudah pernah hidup di Arab, sebahagian orang Arab suka sama laki-laki yang tidak berjenggot. Ada juga anggapan orang Arab itu suka sama sejenis. Ternyata imej itu tidak benar,  semua keturunan dan bangsa relatif memiliki kelainan seksual. Tidak terlepas bangsa Indonesia. Sewaktu saya keluar dari bandara, tiba-tiba datang seorang laki-laki mendekat, kemudian bertanya : Hal anta Indunisi?. Apakah kamu orang Indonesia? Saya Jawab : Na’am “Ya”. Langsung supir itu mengambil tas bawaanku. Bayangan negatif pun timbul dalam pikiran dan berkata dalam hati : Ternyata benar apa yang dikatakan orang. Orang Arab suka sama laki-laki yang tidak berjenggot. Kemudian kami pun saling tarik-tarikan tas. Dengan  suara lantang saya berkata : Man Anta? Dia jawab : Ana min sifarah Indunisia- Saya dari kedutaan Indonesia, kemudian saya lari dan tiba-tiba berpapasan dengan seseorang roman-romannya wajah  Indonesia, ternyata dia bersal dari Filifina. Kemudian saya berjumpa dibalik salah satu tiang bandara dengan seseorang yang mirip  dengan saudara kita dari keturunan tanah Jawa sedang memperhatikan kami berdua, sama-sama berebut tas dengan wajah senyum tersipu. Lalu saya menyapa : Bapak orang Indonesia? Dia jawab : Saya orang Indonesia. Kebetulan bapak itu lokal staf di kedutaan RI Amman. Perasaan lega dan gembira dengan sepontan menyelimuti perasaan .  Kemudian dia menyuruh saya ikut dengan supir mobil van tadi.  Informasi dari pegawai lokal staf kedutaan tadi, bahwa laki-laki Arab  itu bekerja sebagai supir kedutaan. Dalam perjalanan menuju KBRI dikota Amman, hanya kami berdua di dalam mobil pengantar tersebut.

Perjalan dari bandara menuju kedutaan masih cukup jauh. Ditengah perjalanan perasaan saya masih diselimuti rasa curiga. Saya sengaja berbincang dengan supir siapa dia sebenarnya. Pengakuannya dia memang disuruh menjemput seorang konsul bersama keluarganya yang exodus dari Iraq pada invasi Amerika Syerikat kedua dan sekutunya atas Iraq. Si supir bercerita : Saya di perintahkan konsulat Indonesia, agar menjemput setiap orang yang berwarga negara Indonesia yang sampai ke Amman. Tanpa harus menanya siapa orangnya, yang penting orang Indonesia, yang pertama saya jumpai kamu, dan kamu mengaku orang Indonesia. Oleh karena itu saya tidak melepaskan kamu. Karena saya memegang pesan dan amanah.

Rabu, 01 Januari 2025

AUTOBIOGRAFI DAN LINTAS PERJALANAN HIDUP H. SALMAN ABDULLAH TANJUNG, MA

 

AUTOBIOGRAFI
DAN LINTAS PERJALANAN HIDUP
H. SALMAN ABDULLAH TANJUG, MA
(KETUA MUI KAB. ASAHAN)

Desa “Sibanggor Julu”

“Si” merupakan imbuhan yang kerap digunakan dalam bahasa Batak Mandailing, untuk menyebut satu nama bagi sebuah kampung atau desa. “Banggor” dalam bahasa Mandailing kuno diartikan dengan “hangat-hangat kuku”, sebab disana ada aliran air (anak sungai ) yang mengalir dari perut gunung “Sorik Marapi” yang terasa hangat dan agak panas di kulit ketika digunakan untuk mandi, airnya terasa asam kecut (tidak tawar) dilidah, tidak dapat digunakan untuk mencuci pakaian, sebab penggunaan sabun cuci tidak menghasilkan busa yang efektive untuk menyuci pakaian. Sedangkan “Julu” artinya adalah “hulu” atau “atas”. Aek (air) Sibanggor ini melewati tiga desa yang letaknya di hulu disebut Desa ‘Sibanggor Julu”, desa yang di tengah (tonga) disebut Desa “Sibanggor Tonga” dan yang di hilir (jae) di sebut Desa “Sibanggor Jae”.

Desa Sibanggor Julu Nauli
Tempat Kelahiranku 

P

enuturan dari Kepala Desa Sibanggor Julu (Awaluddin Nasution) yang tayang di you Tub, bahwasanya desa Sibanggor Julu yang sekarang ini keberadaannya sudah ada dari tahun 1887, diawal-awal berdirinya desa ini, masyarakat desa sepakat menamainya dengan nama desa: Singa Jambu, kemudian namanya disepakati untuk di ubah menjadi Desa Sibanggor Julu.

Sementara penuturan dari H. Arifin Lubis (Allahu Yarhamhu) juga telah viral di you tub, yang merupakan tokoh adat Masyarakat Desa Sibanggor Julu, bahwasanya Desa ini telah berdiri semenjak terjadinya tragedi yang sangat besar, berupa banjir bandang yang memporakporandakan  Desa Sibanggor Julu yang lama. Beliau menuturkan berdirinya Desa Sibanggor Julu pada tahun 1892.


Asal-Usul Penduduk Desa Sibanggor Julu

Jauh sebelum Desa Sibanggor Julu mengalami tragedi besar berupa banjir bandang pada tahun 1892 . Pada awalnya kampung yang sebelumnya sebenarnya berada pada lembah Gunung Sorik Marapi, rumah-rumah penduduk yang berada pada sekitar  pemandian Air Panas sekarang hanyut terbawa arus, sebagaimana dituturkan oleh H. Arifin Lubis ( Allahu Yarhamhu) .

Penduduknya berasal dari  Huta Siantar- Panyabungan mereka datang  ke Desa Sibanggor julu ikut marga Tanjung, marga  hasiabuan,  marga rangkuti, marga Lubis. Dengan adanya banjir bandang yang menghanyutkan seluruh rumah-rumah penduduk, mereka dievakuasi ke Desa Sibanggor Julu yang sekarang pada tahun 1892.Kemudian perkampungan yang lama dikonversi menjadi lahan-lahan pertanian dan persawahan.Sampai sekarang ini, bekas perkampungan lama masih menjadi lahan-lahan pertanian.

Menurut para pendahulu Desa Sibanggor Julu yang lama,penduduknya sudah ada disekitar lembah Gunung Sorik Marapi, 600 tahun sebelum terjadi banjir bandang besar pada tahun 1892.

Sejarah Desa Sibanggor Julu yang lebih tepat dan sesuai dengan sejarah berdirinya adalah apa yang dikatakan oleh sesepuh masyarakat Desa Sibanggor Julu Allahu Yarhamhu H. Arifin Lubis, pendapat ini juga dikuatkan oleh kedua tokoh desa setelah melalui wawancara langsung dengan Tuan H. Mahmuddin Tanjung dan Tuan H. Lobe Marasyet Tanjung, bahwa yang benar tentang keberadaan Desa Sibanggor Julu terbentuk setelah tragedi banjir bandang besar  pada tahun 1892.


Penampakan kawah gunung Sorik Marapi

Selasa, 19 Januari 2021

MENCARI KESEIMBANGAN ANTARA DUNIA DENGAN AKHIRAT

 

MENCARI KESEIMBANGAN ANTARA DUNIA DENGAN AKHIRAT

Oleh: H. Salman Abdullah Tanjung, MA

Ketua Umum MUI Kabupaten Asahan 

 

Saudara-saudara sidang jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala!

 

Keseimbangan dalam semua asfek kehidupan, sangatlah dibutuhkan agar semua perjalanan berjalan dengan baik dan teratur. Tanpa adanya keseimbangan manusia tidak akan lurus dalam berjalan, kendaraan tanpa ada keseimbangan pada pesawat akan lebih mudah jatuh, kapal laut akan miring, mobil akan oleng, bangunan tidak akan indah dan kekuasaan atau kedaulatan sebuah negara akan terganggu dan jauh dari kondusif. Kata kuncinya segala sesuatunya tanpa keseimbangan akan hancur, kehidupan dunia tidak akan teratur dan kehidupan akhirat akan menjadi bencana abadi yang tidak berujung.

 

وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ ﴿٩﴾

 

“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu”. (Q.S. Arrahman:9)

 

Keseimbangan yang dituntut Allah Ta’ala dari kita sebagai hamba, sangat berbeda dengan yang dituntut oleh makhluk, yang dituntutnya harus memenuhi ukuran dan kafasitas yang sama, seperti gambaran tubuh manusia ada dua mata antara kanan dan kiri yang setara dan sama, ada dua tangan yang juga sama, dua kaki, dua telinga, dua lobang hidung dan sebagainya. Apabila salah satunya tidak ada, akan langsung nampak tidak indah, bahkan manusia tidak akan berjalan dengan baik dan cendrung mencelakainya dalam beraktifitas. Sementara keseimbangan yang dituntut Allah Ta’ala tidak demikian dalam menjalankan aktifitas, karena keseimbangan yang dituntut Allah Ta’ala sesuai dengan perintah-Nya dan selalu diiringi dengan Rahmatnya untuk menutupi keseimbangan itu.

 

Selasa, 16 Juli 2019

Mengagungkan Allah SWT dan Syi’arNya


Mengagungkan Allah SWT dan Syi’arNya
Oleh : H. Salman Abdullah Tanjung, MA
(Ketua Umum MUI Kabupaten Asahan)



Sesungguhnya memuliakan Allah yang Maha Agung lagi Maha Suci NamaNya merupakan hiasan dalam beribadah. Beriman kepada Allah SWT adalah berdasarkan kepada pengagungan dan penghormatan. Keimanan dianggap tidak sempurna dan agama tidak dapat tegak tanpa hati yang penuh dengan pengagungan kepada Tuhan semesta alam. Jika ilmu seseorang tentang Allah SWT bertambah, maka ia akan semakin memuliakan dan mengagungkanNya. Beginilah keadaan Ruh al-Alamin, Jibril as di sisi Tuhannya sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah saw:

"Aku lewat pada malam Isra (Mi’raj) di antara para malaikat yang mulia, adapun Jibril seperti pakaian yang lusuh karena takut kepada Allah SWT."

Adapun keadaan malaikat yang mulia, jika Allah SWT menyampaikan wahyu, mereka bergetar ketakutan seakan-akan mau pingsan. Dan jika rasa takut sudah hilang dari hati mereka, merekapun bertanya, "Apa yang telah difirmankan oleh Tuhan kalian?", maka malaikat-malikat pemikul 'arsy menjawab, "Dia berkata perkataan yang benar, dan Dialah yang Maha tinggi lagi Maha Besar." Rasulullah saw bersabda tentang pengagungan malaikat kepada Sang Pencipta, bahwa tidak ada tempat selebar empat jari di tujuh lapis langit kecuali di sana ada Malaikat yang meletakkan dahinya sujud kepada Allah SWT.

Adapun para Rasul dan Nabi alaihimussalam, setelah mereka mengenal Allah SWT dengan pengetahuan yang sebenarnya, mereka mengagungkanNya dengan sebenar-benar pengagungan. Mereka menyeru kaum mereka agar merasa takut kepada Allah, siksa dan amarahNya. Nabi Nuh as berkata kepada kaumnya,

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” [QS Nuh: 13]

Adapun maknanya ialah mengapa kamu tidak mengangungkan Allah dengan sebenarnya.

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?” [QS Nuh: 13-16]

Keagungan dan Fungsi Bahasa Arab


Keagungan dan Fungsi Bahasa Arab
Oleh : H. Salman Abdullah Tanjung, MA
(Ketua Umum MUI Kabupaten Asahan)


Kemajuan masyarakat Islam Arab dan kejelasan jati dirinya terletak pada kebanggaan terhadap agamanya dan berpegang teguh dengan bahasanya. Agama dan bahasa seseorang merupakan dua dasar penting dalam menentukan afiliasi sebenarnya, agama adalah hatinya, sedangkan bahasa adalah lisannya. Manakala lisan itu sebagai penyambung hati, maka bahasa adalah cabang dari agama yang terbentuk dari Qur'an dengan bahasa arab yang jelas dan Sunnah orang yang paling fasih mengucapkan bahasa Arab, pemimpin para Nabi saw. Sesuatu yang sudah dimaklumi bahwa tidak ada bangsa tanpa bahasa dan tidak ada bahasa tanpa bangsa. Adapun kemuliaan bahasa Arab dibandingkan bahasa lain adalah bahasa al-Qur'an dengan bahasa Arab yang jelas, dan ia seperti kemuliaan agama Islam dibanding agama-agama lain. Jika agama adalah cahaya hati umat Islam, maka bahasa Arab adalah cahaya lisannya; karena bahasa Arab adalah bahasa al-Qur'an dan Sunnah, Bahasa ibadah, ilmu pengetahuan, pemikiran, sastera, budaya, peradaban, dan politik. Bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan lebih dari satu setengah miliar umat Islam di atas muka bumi ini. Meskipun mereka tidak berbicara dalam bahasa Arab, akan tetapi mereka tidak membaca al-Qur'an kecuali dengan bahasa Arab sebagaimana Syekh Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, "Bahasa Arab adalah syiar agama Islam dan syiar pengikutnya, dan bahasa adalah syiar bangsa-bangsa yang membedakan mereka."

Bahasa Arab adalah bahasa yang paling indah di antara sekian banyak bahasa, bahasa yang paling terstruktur dan terperinci. Tidak ada bahasa yang menyerupai dan mengunggulinya. Begitu banyak bahasa di dunia ini mengandung perkataan yang berasal dari bahasa Arab, karena keistimewaan yang ia miliki. Huruf-hurufnya sangat lengkap dan susunan makhraj penuturannya mulai dari kerongkongan sampai dua bibir. Di samping itu, bahasa Arab juga mengandung tujuh huruf yang tidak terdapat dalam bahasa lain, seperti huruf dhaad, zhaa, 'ain, ghain, haa, thaa dan qaaf. Dan ini tidaklah sesuatu yang aneh, karena bahasa arab itu adalah warisan masa lalu yang orisinal, kekayaan cemerlang masa kini dan cakrawala masa depan. Tiga dimensi waktu ini merupakan kehidupan umat-umat yang terukir sepanjang sejarah. Oleh karena itu, banyak di antara manusia yang telah mencapai kemuliaan dengan bahasa Arab, padahal mereka bukan berasal dari bangsa Arab. Peran mereka sangat penting dalam membangun menaranya yang indah setelah meletakkan fundamen dan menyusun bangunannya.

 Di antara mereka ada yang menyusun kaidah bahasa Arab dan cara memahaminya, membuat ilmu retorika atau ilmu balagah serta mengarang kamus yang lengkap. Mereka semua telah mencapai kemuliaan berbicara dalam bahasa Arab padahal mereka bukanlah orang Arab, karena bahasa Arab adalah bahasa al-Qur'an yang jelas. Syekh Islam Ibnu taimiyyah rahimahullah berkata, "Pengaruh membiasakan bahasa Arab yang fasih tidak hanya pada lidah, bahkan lebih dalam dari itu, pengaruhnya sangat kuat dan nyata terhadap pemikiran, moral dan agama. Juga dalam menyerupai periode awal umat Islam dari kalangan sahabat dan tabiin yang akan menambah kekuatan akal, agama dan akhlak."

Jalan Menuju Surga


Jalan Menuju Surga
Oleh: H. Salman Abdullah Tanjung,MA
(Ketua Umum MUI Kabupaten Asahan)



Manusia dinilai bukan dari harta dan kedudukan, tetapi ia dinilai dari kebaikan hatinya, tutur katanya, karakter yang baik dan mengabaikan kekurang-kekurangan orang lain. Keutamaan manusia dilihat dari apa yang diberikannya, bukan apa yang dimilikinya.

Saling berkasih sayanglah di antara kalian dan jangan berselisih, berlemah lembutlah dan jangan bersikap kasar. Siapa yang dipelihara oleh Allah dari fitnah, dialah orang yang paling baik diri dan hatinya serta paling ringan bebannya. Allah berfirman yang maknanya:


"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." [QS al-'Ankabut: 69]

Tanggung jawab seorang muslim di dunia ini adalah beramal dan bersungguh-sungguh, meskipun ia berhadapan dengan masa yang sulit dan keadaan yang berat, kebenaran pasti akan mendapat pertolongan dan orang berimanlah yang paling tinggi. Allah berfirman, maknanya:

"Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman." [QS Ali Imran: 139]

Maka tidak pantas seseorang menanggapi peristiwa, keadaan dan perubahan secara berlebihan. Juga jangan menjadikan hal itu sebagai rintangan dan penghalang. Orang sukses adalah orang yang melihat rintangan itu sebagai kesempatan untuk maju, dan setiap rintangan adalah langkah menuju keseriusan dan pembaharuan.

Wahai orang beriman, surga itu berada dia antara syukur Nabi Sulaiman as dan sabar Nabi Ayyub as. Allah SWT berfirman tentang kedua Nabi yang mulia ini.

"Dia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah)." [QS Shad: 30]

Jangan lihat posisimu di depan makhluk, tetapi lihatlah kedudukanmu di sisi Allah. Janganlah susah memikirkan dunia, dunia dan akhirat adalah di tangan Allah SWT. Tidak usah khawatir masalah rezeki, rezeki itu ada di sisi Allah. Jangan gelisah tentang masa depan,

Hikmah dan Iktibar dari Pergantian Musim


Hikmah dan Iktibar dari Pergantian Musim
Oleh : H. Salman Abdullah Tanjung, MA
(Ketua Umum MUI Kabupaten Asahan)



Pergantian musim dan waktu serta perputaran siang dan malam adalah ibrah bagi hamba yang ingin mengambil pelajaran atau hamba yang ingin bersyukur. Sepantasnyalah bagi orang yang mempunyai akal fikiran untuk merenungkan, intropeksi diri dan mengingat hal-hal yang akan dihadapi kelak. Berapa banyak langkah terhenti dan waktu terbuang tanpa disadari dan tanpa diingat.

"Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur." [QS al-Furqan: 62]

Mari kita berfikir bahwa waktu itu adalah nafas yang tidak akan kembali. Barangsiapa yang lalai daripadanya, maka masanya akan terbuang, kehilangan sesuatu yang agung dan penyesalan yang berkepanjangan. Jika seorang mengetahui nilai waktu yang tersia-siakan, niscaya ia akan memohon agar waktu itu dikembalikan. Akan tetapi halangan telah membendungnya dengan pengembalian waktu.

Manusia adalah seorang pengendera di pundak usianya, Dalam perjalanan yang akan berakhir dalam hitungan hari dan bulan, Malam tidur dan siang bangun, Semakin menjauh dari dunia dan mendekati akhirat,

Pada saat ini, langit sudah mulai mendung, angin bertiup dengan kencangnya, udara dingin menerpa tubuh kita dengan sengatannya dan musim dingin sudah mulai meyelimuti kita. Keadaan ini membuat kita untuk mengambil pelajaran, iktibar dan mengingat zamharir (hawa digin) api neraka sebagaimana terdapat dalam hadits shahihain dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda:

"Nereka mengadu kepada Tuhannya, lalu ia berkata: Ya Tuhanku, bagian tubuhku saling memakan antara satu dan yang lainnya, maka Allah memberikannya dua nafas; Satu nafas di musim dingin dan satu nafas di musim panas. Maka kalian mendapati panas yang sangat luar biasa dari teriknya (yang amat panas) dan kalian mendapati dingin yang sangat luar biasa dari udaranya (yang amat dingin)."